Kulturalisme dan Rakyat Papua yang Berubah

Genre (gaya) studi-studi kebudayaan tanpa sadar memang akan selalu mengkonstruksi (membentuk) wacana di dalamnya. Oleh sebab itulah salah satu pengertian kebudayaan yang sering digunakan adalah sistem makna yang dibentuk masyarakat dalam hidupnya berkomunitas. Sistem makna itulah yang termanifestasikan dalam nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur kehidupan mereka bersama. Oleh sebab itulah kebudayaan adalah sistem pengetahuan, sistem makna, dan dengan demikian merupakan wacana (discourse) yang berisikan pikiran, perbincangan, dan diskursus yang “diomong-omongkan” sehingga mengkonstruksi sebuah pengetahuan di tengah masyarakat.

Namun, perkembangan dalam studi-studi kebudayaan menyisakan pertanyaan tentang proses pembentukan kebudayaan dimana keterlibatan aktor manusia menjadi sesuatu yang sangat penting. Aktor manusia yang membentuk kebudayaan itu memiliki peranan krusial, dimana tingkah polahnya akan mempengaruhi sistem dan arah kebudayaan. Pembentukan kebudayaan mengalami proses perkembangan terus-menerus yang secara langsung berhubungan dengan pemahaman tentang kebudayaan.

Salah satu pemahaman tentang kebudayaan yang pernah berkembang adalah menempatkan manusia dalam lingkaran kebudayaannya. Kebudayaan memberikan images (kesan) dan citra pada manusia yang berada di dalam lingkaran masyarakat kebudayaan tersebut. Manusia seolah-olah tidak berdaya di tengah cengkraman kebudayaan yang menaunginya.   Dalam konteks ini, kebudayaan menjadi faktor menentu yang mempengaruhi kehidupan manusia di dalamnya. Perspektif kebudayaan inilah yang kemudian disebut dengan faham kulturalisme yang memandang bahwa kebudayaan itu ajeg, kokoh dan kuat untuk menginspirasi dan menaungi manusia. Kebudayaan menciptakan karakter manusia yang berada di dalamnya.

Jika ditelisik lebih dalam, faham kulturalisme adalah sebuah pendapat bahwa individual ditentukan oleh budayanya, sehingga budaya ini membentuk sebuah kesatuan organik yang utuh dan tertutup, sehingga individual tidak dapat meninggalkan budayanya tetapi hanya dapat merealisasikan dirinya di dalam budayanya. Kulturalisme juga memastikan bahwa budaya mempunyai klaim terhadap perlindungan hak-hak khusus—bahkan bila budaya melanggar hak-hak individual.

 

Melampui Kulturalisme

Pertumbuhan kulturalisme di Tanah Papua tercermin dari menjamurnya studi-studi kebudayaan yang menekankan begitu kuatnya kebudayaan mempengaruhi kehidupan manusia. Kebudayaan menjadi sangat sentral dan berpengaruh sangat besar. Sementara, perspektif penelitian yang memusatkan perhatian pada hubungan antar manusia baik menjadi sering terabaikan. Yang lebih diutamakan adalah sistem kebudayaan yang sayangnya dianggap sebagai barang keramat yang dipuja-puja secara berlebihan sehingga menghalang-halangi proses perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Sementara peranan aktor dan keterhubungannya dalam membentuk kebudayaan menjadi tersingkirkan karena fokus kepada faham kulturalisme ini. Terlokalisirnya pemahaman kebudayaan hanya kepada kelompok etnik semata beresiko mengecilkan ruang imajinasi masyarakat untuk melampaui kebudayaannya. Ruang-ruang imajinasi ini sangatlah penting jika menginginkan transformasi sosial budaya berjalan dengan baik. Kita akan sangat sulit untuk mengharapkan imajinasi yang melampaui kebudayaan sendiri jika pemikiran dan orientasi hidup “hanya” ditukikkan pada kebudayaan etnik sendiri.

Kebanyakan kajian tentang Papua yang dilakukan selama masa kolonial mengindikasikan bahwa budaya dan bahasa di Tanah Papua memperlihatkan adanya variasi yang tinggi. Indikasinya adalah berdasarkan pada sejumlah kosmologi yang menunjukkan variasi dalam pendekatan pribadi dan teoritis. Jika dapat disusun sebuah peta tentang variasi budaya di Tanah Papua, maka akan muncul godaan untuk menarik batas dan menjelaskan karakteristik dari penggambaran keberbedaan budaya ini yang begitu besar. Hasil dari pengambaran ini akan menjadi sebuah alat yang bermanfaat untuk menggambarkan variasi, tetapi juga akan membuat orang Papua semakin terlihat eksotis daripada yang pernah digambarkan dalam pelbagai monografi individual (Timmer, 2012).

Sudah saatnya sekarang perspektif tentang Papua berpindah dari pemikiran sistem tradisional yang terbatas pada satu atau dua kelompok yang berdiam pada lokasi tertentu. Dalam kajiannya yang terbaru Timmer (2007) menjelajahi hal ini dengan merujuk kepada lembaga-lembaga modern khususnya pemeirntah. Timmer menunjukkan bagaimana kaum elit Papua baru berkembang pada beberapa dekade terakhir. Para elit ini termasuk khususnya mereka yang berkuasa tetapi tidak begitu berakar pada struktur yang dibangun oleh Belanda tetapi pada struktur Orde Baru Indonesia. Dengan mengakses kepada struktur Orde Baru dari Pemerintah Indonesia, generasi baru Papua ini mendapatkan peluang untuk mengakses pendidikan guna persiapan pekerjaan di masa mendatang pada sector-sektor pemerintahan. Masyarakat dari Ayamaru, misalnya, berhasil memanfaatkan sumberdaya ini dan oleh sebab itu mampu menggantikan posisi berkuasa secara tradisional orang Sentani dan Biak dalam lembaga-lembaga pemerintahan khususnya yang terjadi di Jayapura.

Kelompok-kelompok, jaringan, atau pertukaran-pertukaran lain yang bergerak dalam cara-cara yang tak tercakup dalam pendekatan antropologi klasik. Kelompok-kelompok tersebut diantaranya adalah polisi, militer, jaringan LSM, buruh, kelompok-kelompok facebook, kelompok-kelompok seni pertunjukan, dan kelompok-kelompok kepentingan seperti MRP, mahasiswa, dan masyarakat yang berkumpul guna mengikuti kampanye-kampanye tertentu (Timmer, 2012).

Kajian ilmiah di Tanah Papua melewatkan sejumlah aspek kebudayaan dan perilaku yang dapat membuat kita melihat bahwa masyarakat dapat berpikir melampaui batas-batas budaya dan dapat bersatu demi kepentingan-kepentingan tertentu. Sewaktu melakukan penelitian tentang keanekaragaman budaya di Papua, sangatlah penting mencari ciri-ciri umum dan kesatuan pemikiran antara sejumlah unsur budaya ataupun bagian kosmologi kelompok-kelompok lokal. Secara metodologi, hal ini merupakan strategi yang menjanjikan karena dapat mengungkapkan sejumlah unsur yang terlewat sebelumnya. Tentu saja yang terpenting adalah untuk menunjukkan dimana batas-batasmenjadi kabur, fenomena saling meminjam terjadi, dan bagaimana unsur asing tertentu telah mengilhami masyarakat untuk mengembangkan strategi-strategi alternative guna mencapai tujuan mereka.

Dalam konteks Papua yang sedang berubah, saya kira sangatlah penting untuk memikirkan perspektif kebudayaan yang melampaui faham kulturalisme ini. Rakyat Papua memerlukan ruang-ruang imajinasi yang seluas-luasnya untuk memikirkan diri (identitas) dan kebudayaannya yang sedang berubah. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan ruang-ruang keterhubungan (interkoneksi) rakyat Papua dengan dunia global. Pada titik persentuhan inilah orang Papua akan memikirkan dirinya menjadi warga global dan secara terus-menerus dirangsang untuk memperbaharui identitas dan kebudayaannya.

 

 

Staf Pendidik/Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

0 Komentar