Itu Dia! dan Memikirkan Pendidikan Beridentitas Papua

Saat berkesempatan melakukan penelitian pustaka, saya menemukan sebuah dokumen berjudulkan, ITU DIA! Djalan Pengadjaran Membatja untuk Nieuw Guine yang ditulis I.S. Kijne dan diterbitkan J.B. Wolters-Groningen, Djakarta-1951. Pada awalnya saya belum mengetahui benar begitu pentingnya buku ini dalam meletakkan pondasi dasar pendidikan dasar di Tanah Papua (dulu disebut West Nieuw Guinea oleh Pemerintahan Belanda). Para misionaris ini faham betul bahwa dasar-dasar pendidikan selayaknya dikembangkan sesuai dengan konteks dan kearifan lokal suatu daerah. Proses pendidikan dengan demikian harus menyentuh kehidupan keseharian masyarakatnya, bukan malah tercerabut dari akar kebudayaan dan identitasnya.

Beberapa puluh tahun kemudian, di awal tahun 2014, saat melakukan penelitian lapangan di Kota Sorong, saya kembali menemukan “wajah baru” dari ITU DIA! yang dikembangkan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah-sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang didirikannya di beberapa daerah di Sorong. Alasan mereka kembali mengulangi jalan pengajaran membaca yang dikembangkan misionaris adalah telah hilangannya ruh pendidikan yang dikembangkan Pemerintah Indonesia di Tanah Papua. Kedua-duanya yaitu pendidikan yang dikembangkan misionaris dan pemerintah Indonesia adalah sama-sama hal yang asing bagi rakyat Papua. Namun, ITU DIA! Djalan Pengadjaran Membatja untuk Nieuw Guinea yang dikembangkan para misionaris ini terbukti lebih bisa diterima dan merekognisi dunia dan imajinasi rakyat Papua tentang kebudayaan, lingkungan, dan identitasnya.

Di awal buku teks tipis yang sangat sederhana ini, I.S. Kijne memulainya dengan beberapa asas dalam pengajaran membaca di Tanah Papua. Ia menuliskan:

Anak-anak sekolah harus merasa diri didalam dunianja sendiri dan bukan didalam dunia asing. Buku-buku batjaan jang biasa dipakai membawa anak-anak itu kedalam dunia asing. Djalan penadjaran ini mempergunakan benda dari dunia sekitar anak-anak sekolah. Tentu perkataan banjak jang harus diadjarkan kepadanja, tetapi perkataan banjak jang harus diadjarkan kepadanja, tetapi perkataan itu semuanja lazim di Nieuw Guinea, sehingga dapat dipergunakannja terus. (I.S. Kijne, 1951:3)

Buku-buku bacaan khususnya bagi anak-anak sekolah dasar memang sering dikritik lepas dari konteks lokal dan keseharian masyarakatnya. Dinamika interkoneksi anak-anak Papua dengan dunia luar dalam bidang pendidikan seakan alpa menempatkan mereka menjadi subjek dari proses pendidikan tersebut. Yang terjadi malah anak-anak Papua tersingkirkan dalam proses pendidikan di tanahnya sendiri karena apa yang diajarkan adalah impor dan asing bagi mereka. Misalkan saja kalimat-kalimat yang terkenal dari buku-buku pelajaran yang diproduksi oleh Pemerintah Indonesia: “Ini Bapak Budi. Ini Ibu Budi. Bapak Budi pergi ke sawah. Ibu Budi memasak di dapur” dan yang lainnya.

Dalam usaha menandingi homogenitas (seragamisasi) pemikiran dan pelajaran inilah diperlukan langkah-langkah kreatif untuk memanfaatkan konteks lokal dalam proses pendidikan dan menjadikan cerita-cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sebagai sumber pembelajaran yang efektif. Dengan demikian anak-anak akan menemukan dunianya dan itu juga berarti menemukan identitasnya. Anak-anak belajar tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam konteks Papua, sangatlah penting artinya proses pendidikan yang berkonteks lokal Papua. Hal itu bisa diekspresikan misalnya dalam masyarakat dengan mengapresiasi cerita-cerita rakyat yang masih dituturkan dalam bahasa ibu masing-masing etnik. Langkah ke depan sangatlah penting untuk melaksanakan proses-proses pendidikan dengan menggunakan bahasa ibu dan menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat sebagai warisan tradisi lisan masyarakat. Cerita-cerita rakyat ini sepatutnya dituliskan dan dijadikan bahan ajar di pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Keterhubungan Papua dengan dunia dunia luar (modernitas) menjadi salah satu pemicu perubahan sosial budaya. Akulturasi yang terjadi antara anak-anak Papua dengan dunia luar tercermin dalam dunia pendidikan. Dalam konteks pendidikan di Tanah Papua, dengan bukti buku pelajaran membaca yang dirancang oleh misionaris, terlihat jelas usaha kreatif untuk menempatkan konteks lokal dalam rancangan pembelajaran membaca di sekolah dasar. Misalkan saja dengan penggunaan alat peraga berupa gambar besar yang mendeskripsikan “Rumah yang di kampung kena api. Ada orang berteriak dan lari. Ada babi yang lari. Ada pula orang yang lari mencari air dan membawa air dan memadamkan api itu sampai api mati” (I.S. Kijne, 1951: 5).

Anak-anak Papua dengan demikian memerlukan media-media pembelajaran di mana anak-anak mampu belajar tanpa kehilangan identitasnya. Oleh karena itulah mereka akan dapat berpartisipasi dalam gerakan perubahan masyarakatnya, bukannya malah tersingkir dan terasingkan dengan pembelajaran yang asing bagi mereka. Selama ini yang terjadi justru buku-buku pelajaran diimpor dari luar Papua dan tidak menjejakkan kaki dalam konteks Papua.

 

Media dan Mediasi Budaya

Agar anak-anak Papua bisa belajar tanpa kehilangan identitasnya, dibutuhkan media-media kebudayaan yang dipentaskan dalam ruang-ruang kebudayaan, termasuk salah satunya di sekolah. Media-media jelas menjadi kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele. Media-media kebudayaan yang dimaksudkan adalah berbagai sarana-sarana yang menjadi “alat” untuk mengeskpresikan kebudayaan berbagai macam etnik yang ada di Tanah Papua ini. Media-media budaya sebenarnya hidup di tengah masyarakat dan menjadi simbol pemaknaan kebudayaan yang terus-menerus mereka lakukan. Namun, ditengah globalisasi dan modernisasi yang membayangkan kemajuan sebagai indikatornya, apresiasi terhadap media-media budaya yang tradisional dianggap ketinggalan zaman.

Media-media kebudayaan yang dimaksud adalah diantaranya adalah kesenian (ukir, tari, musik, suara) yang begitu kaya di Tanah Papua. Masing-masing keseniaan ini mempunyai ruangnya yang menyejarah saling bertautan dalam penciptaan kebudayaan sebuah komunitas. Seni ukir sebuah wilayah bisa merepresentasikan sistem pengetahuan dan religi sebuah komunitas. Melalui ukiran-ukiran kayu para seniman inilah pemaknaan sebuah kebudayaan sedang dilakukan terus-menerus, diperbincangkan, dan kemudian diwariskan menjadi sistem pengetahuan yang menandakan identitas mereka.

Di Tanah Papua, kesatuan kesenian (visual, tari, musik, nyanyian/suara) sudah menjadi ruh dan kehidupan masyarakat. Berbagai ekspresi kesenian ini adalah media-media budaya yang akan terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Papua. Namun karena mimpi terhadap kemajuan dan modernitas yang diimpor dari cerita kesuksesan daerah-daerah lain, apresiasi terhadap media-media kebudayaan tradisional akhirnya tersingkir. Persoalannya bukan hanya tersingkirnya apresiasi-apresiasi tapi secara perlahan namun pasti transformasi (perubahan) sosial pun menjadi tantangan yang harus dihadapi di depan mata.

Selain kesenian, media cerita-cerita rakyat dan proses inisiasi adat adalah pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan yang paling menyentuh kehidupan seseorang. Jika dipahami lebih dalam, dalam cerita-cerita rakyat akan banyak terkandung nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Lebih jauh, proses inisiasi adat yang dilakukan oleh sebuah komunitas atau etnik tertentu adalah pendidikan kebudayaan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menciptakan karakter seseorang.

Media-media kebudayaan ini di tengah situasi bertautannya dunia tradisional dan dunia masa depan seolah dianggap kehilangan spiritnya. Arnold Clements Ap, seorang tokoh kesenian dan kebudayaan Papua, pernah mengungkapkan pendapat tentang apa yang dikerjakannya bersama teman-temannya di Group Mambesak. “Mungkin kamu berpikir saya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.” Apa yang dilakukan Arnold Ap dan Mambesak melalui media-media kebudayaan kesenian dalam hal ini adalah sesuatu yang membanggakan sekaligus menginspirasi. Salah satu hal yang tidak dapat terbeli dalam kehidupan ini salah satunya mungkin adalah kepuasan ketika identitas diri dan kebudayaannya terekspresikan dengan merdeka tanpa tekanan.

Melakukan gerakan-gerakan apresiasi terhadap kebudayaan masyarakat adalah salah satu perspektif dalam studi kebudayaan. Mediasi kebudayaan bisa diartikan sebagai perspektif yang melihat pelibatan/pengikutsertaan perspektif kebudayaan dalam memecahkan suatu permasalahan. Perspektif kebudayaan yang dimaksudkan adalah suatu pemahaman bahwa segala macam permasalahan terkandung aspek kebudayaan. Analisis kebudayaan inilah yang menjadi sumbangan dari gerakan-gerakan mediasi kebudayaan.

Tentang apa itu kebudayaan dan bagaimana perspektif yang terdapat di dalamnya menjadi perdebatan yang tiada ujung dan akhir. Begitu banyak teori dan perspektif kebudayaan dengan metodologinya amsing-masing. Jika menganggap kebudayaan itu terus bergerak dan berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu, perspektif transformatif yang emansipatoris sangatlah tepat dirujuk. Paradigma kebudayaan ini memandang bahwa pemaknaan kebudayaan lahir dari proses belajar bersama antara masyarakat dan orang lain yang ingin belajar tentang kebudayaannya. Dengan demikian, pengetahuan terlahir dari proses negosiasi dan saling belajar. Perspektif ini jauh dari pemikiran bahwa kebudayaan adalah datang jatuh dari langit dan ada begitu saja (taken for granted). Kebudayaan adalah proses pemaknaan berupa sistem nilai dan norma dalam sebuah komunitas yang akan terus berubah-ubah sesuai dengan konteks ruang yang menyejarah dan waktu.

Gerakan mediasi-mediasi kebudayaan bisa tercermin dari digunakannya perspektif kebudayaan yang transformatif emansipatoris dalam membaca perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Mediasi kebudayaan bisa juga terlihat dari keberpihakan dalam memfasilitasi ekspresi-ekspresi kebudayaan lokal yang tumbuh dan berkembang menjadi identitas dan martabat masyarakat Papua.

Selama ini, ekspresi identitas kebudayaan lokal Papua telah direpresi dengan stigma separatis karena alasan stabilitas atau dianggap kuno tidak sesuai dengan kebudayaan modern. Mengapresiasi kebudayaan lokal dengan berbagai medianya adalah bentuk gerakan sosial yang paling ampuh untuk merekognisi identitas dan martabat diri. Dengan demikian kita juga telah memediasi gerakan-gerakan kebudayaan baru untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan orang Papua memikirkan dunia lainnya dengan tetap berakarkan identitas kebudayaannya.

 

Staf Pendidik/Dosen di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

 

0 Komentar