Glokalisasi Papua

Saat mengunjungi Distrik Oransbari Kabupaten Manokwari, bertemu dengan bapa kepala kampung, saya menyaksikan kondisi yang sangat ironis. Kondisi itu berhubungan dengan fragmen-fragmen ketersingkiran orang Papua di tanahnya sendiri. Saya mungkin akan disebut meromantisir jika menceritakan kejadian yang dianggap “lumrah” dan “biasa” terjadi di Papua. Tetapi menurut saya pada titik inilah terletak persoalan terbesarnya—yang dalam konteks Papua sering dianggap “sudah wajar” oleh berbagai pihak. Tapi ini bukan persoalan yang khas hanya di Papua, tapi hampir di seluruh wilayah nusantara ketika investasi global dan nilai-nilai baru semakin mendesak masyarakat lokal (tempatan) ke wilayah pinggiran, dan pada akhirnya tersisihkan.

Siang itu, suatu hari di bulan Desember 2013 saya bersama kolega di Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari hendak bertemu dengan kepala kampung untuk mengkonfirmasi rencana mahasiswa melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Saya harus melewati ruas-ruas jalan yang membelah perkebunan kelapa sawit menuju rumah kepala kampung. Jauh dari bayangan saya, ketika menuju ke dalam perkebunan kelapa sawit itu berjejer rumah-rumah penduduk Papua yang sangat sederhana dan jauh dari keramaian. Mereka hidup di tengah perkebunan sawit yang sayangnya tidak lagi menyambung hidup mereka. Perkebunan swait itu telah lama tidak lagi beroperasi. Masyarakat Papua yang dulunya “dipaksa” untuk berkebun kelapa sawit kini harus gigit jari. Perusahaan sawit yang menjadi sandaran kehidupan mereka kini telah berhenti beroperasi. Hasil sawit kini tidak lagi bisa dibeli untuk perusahaan. Masyarakat Papua sejak ekspansi kelapa sawit masuk ke wilayah mereka menyerahkan harta mereka yang sangat berharga; tanah. Lambat lain merekapun memulai kisah ketergantungan terhadap pemodal ini dengan menjual hasil sawit mereka kepada perusahaan.

Salah satu masyarakat Papua itu adalah bapak kepala kampung yang saya temui. Ia menyerahkan tanahnya untuk investor, sementara ia bersama keluarganya pindah menuju ke daerah dalam hutan. Ia tidak mengira jika kemudian tanahnya itu menjadi jalan utama dan sudah dipenuhi oleh para transmigrasi yang menyerbu Papua sejak tahun 1980-an. Sementara rumah tempatnya tinggal sekarang sebelumnya adalah hutan tempatnya berkebun. Namun kini perkebunan sawit melenyapan kebun dan hutan milik kepala kampung. Yang tersisa kini adalah penyesalan; “Kenapa sa bodok (bodoh) mau jual tanah ke perusahaan dorang,” kisah kepala kampung.

Kisah kepala kampung di Oransbari adalah sekelumit fragmen bagaimana perubahan sosial budaya yang melaju kencang di Tanah Papua. Salah satu pembawa perubahan itu adalah investasi berwujud perusahaan kelapa sawit dan gerakan transmigrasi. Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Oransbari namun sebagian besar daerah di Indonesia. Di tengah arus kecang perubahan kebudayaan itulah, kita sudah tidak mudah lagi menarik garis tegas antara mana yang”lokal” dan “global”. Semuanya bercampur aduk menghasilkan “reproduksi kebudayaan”, memunculkan efek-efek kebudayaan yang berdampak kepada lahirnya identitas dan pembaruan-pembaruan kebudayaan.

Dunia global yang berada di depan orang Papua bergerak begitu licin dan terus bereproduksi (menghasilkan anak pinaknya). Globalisasi seperti yang diungkapkan Ted C. Lewellen (2002: 7-8 dalam Laksono, 2011: 13-14) adalah peningkatan arus perdagangan, keuangan, kebudayaan, gagasan dan manusia sebagai akibat dari tekonologi canggih di bidang komunikasi, perjalanan dan dari persebaran kapitalisme neoliberal ke seluruh penjuru dunia, dan juga adaptasi lokal dan regional serta perlawanan terhadap arus-arus itu. Suka tidak suka, kita menelan dunia dan kita pun ditelan dunia. Globalisasi juga mengobarkan perlawanan, dibenci tapi dirindukan setengah mati.

Globalisasi seringkali dikaitkan dengan isu pasar bebas, liberalisasi ekonomi, westernisasi atau Amerikanisasi, revolusi internet dan integrasi global. Ini tentu saja tidak salah karena globalisasi mula-mula pada tahun 1985 digunakan oleh Theodore Levitt untuk mengacu pada politik ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Pandangan teoritikus sosial kemudian mengungkapkan globalisasi mengacu pada perubahan-perubahan mendasar dalam tekuk-tekuk ruang dan waktu dari keberadaan sosial. Mengikuti perubahan ini, secara dramatik makna ruang atau teritori bergeser dalam akselerasinya pada struktur temporal bentuk-bentuk penting aktivitas manusia. Pada saat bersamaan terjadi juga pengaburan batas-batas lokal bahkan nasional dalam banyak arena kegiatan manusia. Globalisasi dengan demikian mengacu pada bentuk-bentuk aktivitas sosial non teritorial. Lebih dari itu, globalisasi terkait dengan pertumbuhan interkoneksi sosial melintasi batas-batas geografi dan politik atau deteriteorialisasi. Globalisasi itu juga terkait dengan pertumbuhan interkoneksi sosial melintasi batas-batas geografi dan politik atau deteriteorialisasi. Tahap yang paling menentukan dalam globalisasi adalah ketika peristiwa-peristiwa dan kekuatan-kekuatan yang jauh mempengaruhi prakarsa-prakarsa lokal dan regional.

Globalisasi juga mengacu pada kecepatan atau velositas aktivitas sosial. Deteriteorialisasi dan interkoneksi memang mula-mula seperti hanya soal keruangan semata. Tetapi nyatanya perubahan spasial ini langsung berhubungan dengan bentuk-bentuk penting dari aktivitas sosial. Dengan demikian globalisasi merupakan proses yang panjang dan bermuara banyak sebab deteriteorialisasi, interkoneksi dan akselerasi sosial itu bukan peristiwa kehidupan sosial sosial yang tiba-tiba dan menerpa arena sosial (ekonomi, politik dan kebudayaan) yang berbeda-beda (Laksono, 2011: 13-14). Hilangnya sekat-sekat itulah yang membuat Papua dan masyarakatnya terpapar dalam keterhubungan dengan dunia global yang tak terhindarkan.

Orang Papua kini sudah mentautkan dirinya dengan dunia global yang bukan hanya etniknya di kampung saja. Generasi-generasi muda di Pegunungan Tengah misalnya sudah melakukan migrasi ke pantai untuk mengakses dunia global melalui pendidikan, pemerintahan, dan memperbarui pengetahuannya. Mereka menerima “kebudayaan baru” tersebut dengan tangan terbuka untuk kemudian menginternalisasikannya menjadi bahan refleksi diri dan kebudayaannya. Lebih dalam daripada itu, mereka mengadaptasi, menseleksinya secara cermat, untuk dicocok-cocokkan dengan kebudayaan (baru) mereka. Gerakan apropriasi (mengambil alih yang asing) inilah yang menunjukan bagaimana nilai-nilai global dipelajari untuk dipergunakan dalam melakukan gerakan pembaruan kebudayaan.

Seorang generasi muda Papua dari daerah Pegunungan Tengah Papua yang saya temui di Yogyakarta mengisahkan bagaimana mimpinya melanjutkan studi di Amerika sedikit lagi mendekati kenyataan. Ia yang berasal dari sebuah kampung di Lembah Balim itu terhubung dengan dunia setelah mengikuti pendidikan di Universitas Cenderawasih, magang di beberapa LSM di Jakarta, mengikuti kursus bahasa inggris, dan memutuskan untuk menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi kontributor di sebuah media online. Melalui jejaring dunia global itulah ia terhubung dengan beberapa teman hingga mengantarkan dirinya menerima beasiswa untuk studi Master di Amerika Serikat.

Arus informasi dan migrasi menjadikan anak-anak muda Papua untuk berpikir melampaui kebudayaan lokalnya di kampung dan berusaha mengakses dunia (global) lain. Sementara di kampungnya juga interkoneksi global telah menghubungkan anak-anak muda dengan dunia luar melalui property-properti kebudayaan seperti; koran, handphone, internet, gereja dan pendeta, para pendatang dengan kios-kiosnya, dan yang lainnya. Namun di sisi yang lain, mereka sedang mencari siapa diri mereka sebenarnya di tengah pertemuan dengan dunia global tersebut. Betul mereka adalah orang Papua, tapi orang Papua yang bagaimana? Bisa jadi mereka adalah anak-anak muda Papua yang kreatif dan terus berubah untuk mengkonstruksi diri melalui keterhubungannya dengan dunia global. Pada momen-momen kreatif inilah orang Papua akan selalu bergerak dinamis, selalu berubah secara terus-menerus dalam mendefinisikan dirinya.

Di kampung-kampung, masyarakat terus-menerus berubah dalam merespon pertautan mereka dengan dunia luar. Imajinasi mereka terus-menerus dinamis dan kreatif memikirkan siasat dan berjuang menghadapi hidup yang keras dan terus-menerus menghimpit mereka. Interkoneksi dengan dunia global menjadi stimulasi untuk memperbarui secara terus-menerus kebudayaan mereka. Kreatifitas mereka diperkaya untuk memperbarui kebudayaan sekaligus juga berimplikasi negatif ketika terjadi keterpecahan (fragmentasi) di dalam masyarakat akibat kompleksitas konflik ini. Lambat laun munculah otoritas dan kekuasaan (baru) di tengah masyarakat. Pertautan dengan dunia global selalu meninggalkan mimpi dengan dunia dan kekuasaan baru. Seperti itulah yang juga terjadi di Tanah Papua.

0 Komentar